Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena bediding, yaitu suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga dini hari, merupakan kondisi yang umum terjadi saat musim kemarau. Ketua Tim Kerja Analisa Variabel Iklim BMKG, Dr. Amsari Mudzakir, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena minimnya tutupan awan, sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu udara pada malam hari menjadi lebih dingin dibandingkan biasanya. Fenomena bediding diperkirakan akan berakhir ketika memasuki awal musim hujan, saat awan kembali banyak terbentuk dan mampu menahan panas di atmosfer.
BMKG juga memprediksi fenomena El Nino akan mencapai puncaknya pada September hingga November 2026, sebelum berangsur kembali normal. Dampaknya antara lain meningkatnya risiko kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Karena itu, masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air, menjaga kecukupan cairan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. BMKG juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi menghadapi dampak musim kemarau, sementara Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hanya dapat dilakukan apabila masih tersedia awan yang berpotensi menghasilkan hujan













