Latar belakang pendidikan sarjana tak membuat Nadia Sofani memilih bekerja di perkantoran. Lulusan Agribisnis ini justru memutuskan pulang ke kampung halamannya di Temanggung, Jawa Tengah, untuk menekuni pertanian modern. Berbekal ilmu yang dimiliki, Nadia membangun usaha budidaya edamame melalui lahan seluas seribu meter persegi.
Dengan modal awal sekitar enam juta rupiah, Nadia mampu mengembangkan edamame menjadi bisnis potensial dengan omzet mencapai dua digit juta rupiah per bulan. Ia juga menerapkan strategi memangkas rantai pasok agar hasil penjualan bisa dinikmati lebih besar, tanpa harus bergantung pada perantara. Meski sempat mendapat cibiran karena memilih bekerja di sawah, Nadia menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang.
Melalui Narutala Company, Nadia tidak hanya membangun usaha untuk dirinya sendiri, tetapi juga melibatkan warga sekitar, khususnya para ibu, dalam proses panen. Ia turut menerapkan konsep pertanian berkelanjutan atau zero waste, dengan memanfaatkan sisa tanaman edamame sebagai pakan domba, sementara kotorannya diolah kembali menjadi pupuk untuk menyuburkan tanah.












