Umbi yakon memiliki bentuk menyerupai ubi jalar, namun dapat dikonsumsi langsung dalam kondisi mentah. Teksturnya renyah dan berair dengan rasa manis seperti buah pir. Tanaman ini mulai dikembangkan sejak 2013 oleh salah seorang supplier bahan baku herbal yang sebelumnya memasok berbagai tanaman herbal ke industri.
Berawal dari membeli sekitar 20 bibit yakon dari Yogyakarta, tanaman tersebut kemudian dikembangkan dan diperbanyak di sekitar rumah. Saat itu, umbi yakon belum banyak dikenal masyarakat dan sulit dipasarkan karena bukan merupakan makanan pokok. Bahkan, ketika dibawa ke pasar tradisional, umbi yakon lebih sering diberikan secara gratis kepada calon konsumen untuk dicoba. Pengembangannya kemudian terus dilakukan, termasuk memanfaatkan daun yakon yang dikeringkan.
Permintaan terhadap yakon mulai meningkat setelah tanaman tersebut viral di media sosial pada 2023. Penjualan melalui platform digital kemudian melonjak, bahkan pengiriman disebut pernah mencapai sekitar 3.000 resi dalam satu hari, dengan rata-rata 2.000 hingga 2.500 pesanan. Sementara untuk daun yakon kering, setelah masa pandemi COVID-19, pengiriman disebut dapat mencapai lebih dari satu ton dalam sebulan. Perkembangan tersebut membuat yakon yang sebelumnya kurang dikenal kini memiliki pasar yang semakin luas.












