MSR Bersama Ust. Muhammad Sholeh | Mushola Baitul Mukhtar Ciawigebang
Ringkasan Tausiyah :
Mari kita bersyukur kepada Allah, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun harus memuji Allah. Rasulullah Saw ketika mendapatkan nikmat, beliau bersyukur dengan kalimat :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Artinya : “Segala puji bagi Allah, dengan kenikmatan dari-Nya menjadi sempurna semua amal kebaikan.
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
Artinya : “Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.
Segala nikmat datangnya dari Allah Swt, siapa yang meyakini mendapatkan nikmat karena atas usahanya bukan karena atas karunia Allah maka ia telah kufur kepada Allah Swt.
Syukur dengan 3 cara
- Dengan hati, meyakini nikmat dari Allah Swt
- Dengan lisan, mengucapkan Alhamdulillah atau menceritakan nikmat kepada kawannya
- Dengan anggota badan, gunakan fasilitas untuk taat kepada Allah Swt
Seorang santri misalnya, ia menjadi ahli ilmu, seorang yang ahli puasa senin kamis dan segala kebaikan lainnya, itu merupakan karunia dari Allah Swt. Termasuk kesehatan kita merupakan karunia dari Allah Swt. Adapun kita berolahraga, itu hanya sebab lahiriah saja.
Dalam melaksanakan ibadah, selain memperhatikan kuntitas (jumlah) juga harus memperhatikan kualitas. Misalnya dalam melaksanakan bersedekah, sadari bahwa harta tersebut dari Allah dan untuk Allah Swt.
Dengan kita mengingat Allah maka hati akan tenang, sadari bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan atau ditetapkan oleh Allah Swt.
Jika ada orang yang sudah istiqomah berdzikir namun hatinya belum tenang, bisa jadi dzikirnya hanya di lisan saja, belum sampai diresapi kedalam hati.
Misalnya kita berjanji untuk ketemu buya, sudah dipersiapkan segala sesuatunya, tapi ternyata tidak jadi, maka tanamkan dalam hati “oh, belum waktunya, tapi niatnya sudah diterima oleh Allah Swt”.
Ingatlah kepada Allah Swt, kapanpun dan dimanapun. bisa jadi jasadnya dipasar tapi ia ingat Allah, bisa jadi jasadnya dimasjid tapi lupa kepada Allah Swt.
Dikisahkan ada seorang ustadz yang mengisi khutbah dengan semangatnya, kemudian saat khutbah keluar dari mulutnya darah terus menerus, setelah itu digantikanlah dengan khatib yang baru.
Ust. tersebut ke toilet untuk berkumur, darah masih keluar terus menerus, hingga akhirnya ust. tersebut ingat bahwa saat ia berkhutbah “adanya kesombongan dihati, merasa paling wah saat khutbah, ia khutbah tanpa teks, fasih, sedangkan ust lain pake teks”, setelah itu ust. tersebut langsung istighfar kepada Allah Swt baru darah berhenti. Pelajarannya, saat kita sombong maka Allah akan berikan teguran kepada kita. Jika terjerumus dosa, segeralah istighfar kepada Allah Swt baik dosa lahir maupun batin.

















