MSR Bersama Ust. Ahmad Dimyati, Lc., MA Masjid AMBS Perum Quanta 2, Desa Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan
Ringkasan Tausiyah :
Malam ini kita berada di malam 27 Rajab. Para ulama menyebutkan bahwa pada tanggal inilah terjadi peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat, namun mayoritas menyatakan bahwa Isra Mi’raj terjadi pada 27 Rajab.
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat agung dan menjadi sarana bagi kita untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Rasulullah ﷺ mengalami masa duka yang sangat mendalam karena ditinggal wafat oleh dua orang yang sangat beliau cintai, yaitu Sayyidah Khadijah ra. dan pamannya, Abu Thalib.
Sayyidah Khadijah ra. adalah sosok wanita mulia yang memiliki peran besar dalam perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ. Wafatnya beliau membuat Rasulullah ﷺ sangat bersedih dan merasa kehilangan. Demikian pula dengan wafatnya Abu Thalib yang selama ini menjadi pelindung dan pembela Nabi ﷺ.
Setelah masa kesedihan tersebut, Allah SWT menghibur Rasulullah ﷺ dengan peristiwa Isra Mi’raj yang ditempuh dalam waktu yang sangat singkat. Isra adalah perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha.
Setelah peristiwa tersebut, manusia terbagi menjadi dua golongan: ada yang beriman dan ada pula yang mengingkari. Di antara yang beriman adalah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., sementara yang mengingkari adalah Abu Jahal. Sayyidina Abu Bakar ra. membenarkan apa pun yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Sebaliknya, kelompok Abu Jahal justru menjadikan peristiwa Isra Mi’raj sebagai sarana untuk menjatuhkan Nabi ﷺ dengan menuduh beliau berdusta dan menyebarkan kebohongan.
Kaum yang mengingkari kemudian menguji kebenaran Rasulullah ﷺ dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, salah satunya tentang jumlah tiang di Masjidil Aqsha. Namun karena Rasulullah ﷺ mendapatkan pertolongan dan perintah dari Allah SWT, pertanyaan tersebut dapat beliau jawab dengan benar.
Dari peristiwa ini, kita dapat mengambil pelajaran penting: dalam kehidupan ini, kita ingin menjadi golongan Sayyidina Abu Bakar yang penuh iman dan keyakinan, atau justru golongan Abu Jahal yang ingkar dan menentang kebenaran.










