Apa Itu Ihsan ?

Sering kita mendengar kata ihsan, namun menjadikan pertanyaan apa sih itu ihsan?  Apakah setiap berbuat kebaikan itu ihsan atau bagaimana ? mari simak berikut ini.

Di dalam pandangan Islam ihsan tidak bisa dipisahkan dengan islam dan iman kenapa demikian, karena dalam suatu hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Amirul Mu`minin Umar bin Khatab ra. berkata :

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

Dari Umar ra, ia berkata, “Suatu hari ketika kami duduk-duduk di dekat Rasulullah saw tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk di hadapan Rasulullah saw lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha Rasulullah saw, sambil berkata :

“Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?”

Rasulullah saw menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“

Kemudian dia berkata, “Engkau benar” Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.

Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?”

Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.”

Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.”

Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu.”

Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan terjadinya).”

Beliau menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.”

Dia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?”

Beliau menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunan,”

Orang itu pun pergi dan aku berdiam lama, kemudian Beliau bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?”

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu dengan maksud mengajarkan agamamu.” (HR. Bukhari Muslim)

Bunyi hadis di atas yang menjelaskan tentang ihsan menurut syaikh Nawawi Al Bantani dalam syarah kitab Kasyifatu Syaja, syarahan kitab Safinatun Naja karya Syaikh Salim bin Smir Al Hadromi ia mengatakan:

Bunyi hadis “ihsan” berarti bahwa yang dimaksud ihsan adalah ikhlas dan bisa juga membaguskan amal. Tafsiran membaguskan amal adalah lebih khusus daripada tafsiran ikhlas.

Bunyi dalam hadis “kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu,” adalah kesimpulan dari seluruh sabda-sabda Rasulullah saw karena dalam hadis tersebut mencakup maqom musyahadah dan maqam muroqobah.

Jelasnya seorang hamba memiliki 3 tingkatan dalam ibadahnya yaitu ;

  1. Hamba yang melakukan ibadah dengan tata cara yang telah memenuhi tuntutan syariat, yaitu sekiranya ibadahnya telah memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun.
  2. Hamba yang melakukan ibadah dengan tata car anomer pertama, dan ia telah tenggelam dalam maqom mukasyafah sehingga seolah-olah ia melihat Allah dalam ibadahnya. Ini adalah tingkatan atau maqom Rasulullah saw sebagaimana beliau bersabda “Aku menjadika penghibur hatiku dalam sholat.”
  3. Hamba yang melakukan ibadah dengan tata cara nomer pertama disertai ia telah dikuasai dengan keadaan bahwa Allah melihatnya. Ini adalah maqom muroqobah.

Oleh karena itu, dalam bunyi hadis “Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu,” adalah penurunan dari maqom mukasyafah ke maqom muroqobah, maksudnya jika kamu beribadah kepada Allah dengan keadaan yang mana kamu bukan termasuk ahli melihat-Nya maka beribadahlah kepada-Nya dengan keadaanmu yang meyakini  bahwa Allah melihatmu.

Dengan demikian, masing-masing dari 3 maqom di atas disebut dengan ihsan, hanya saja ihsan yang merupakan syarat sahnya ibadah hanya pada nomer (1) karena ihsan pada nomor (2 dan 3) adalah ihsan yang merupakan sifat yang hanya diberikan kepada orang-orang tertentu atau khowas dan sangat sulit bagi kebanyakan orang untuk memilikinya.

Klik

× Ada yang dapat kami bantu?