MALU BAGIAN DARI IMAN
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah sebahagian daripada iman”
(HR Bukhari No: 8)
Iman memiliki lehih 60 cabang. Sifat Malu adalah sebahagian daripada keimanan seseorang.
Satu daripada sifat orang beriman ialah memiliki perasaan malu untuk melakukan maksiat dan malu jika tidak melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam.
Suatu ketika Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam menjumpai seorang yang sedang mencela saudaranya karena dia sangat pemalu, Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam lantas bersabda,
“Biarkan dia karena rasa malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hakikat rasa malu adalah suatu akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan kurang memperhatikan haknya orang yang memiliki hak.
Untuk rasa malu kepada Allah Ta’ala Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam jelaskan dalam sabdanya :
“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”.
“Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat.
Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Alloh dengan sebenar-benarnya.”
(HR. Tirmidzi 935)
Tanda memiliki rasa malu kepada Allah Ta’ala adalah menjaga anggota badan agar tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala, mengingat kematian, tidak panjang angan-angan di dunia ini dan tidak sibuk dengan kesenangan syahwat serta larut dalam gemerlap kehidupan dunia sehingga lalai dari akhirat.
Adapun malu kepada sesama manusia. Malu inilah yang mengekang seorang hamba untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas. Dia merasa risih jika ada orang lain yang mengetahui kekurangan yang dia miliki.
Rasa malu dengan sesama akan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan yang buruk dan akhlak yang hina. Sedangkan rasa malu kepada Allah Ta’ala akan mendorong untuk menjauhi semua larangan Allah Ta’ala dalam setiap kondisi dan keadaan, baik ketika bersama banyak orang ataupun saat sendiri tanpa siapa-siapa menyertai.
Rasa malu kepada Allah Ta’ala adalah di antara bentuk penghambaan dan rasa takut kepada Allah Ta’ala. Rasa malu ini merupakan buah dari mengenal betul Allah Ta’ala, keagungan Allah Ta’ala. Serta menyadari bahwa Allah Ta’ala itu dekat dengan hamba-hambaNya, mengawasi perilaku mereka dan sangat paham dengan adanya mata-mata yang khianat serta isi hati nurani.
Malu kepada Allah Ta’ala merupakan derajat ihsan yang paling puncak.
Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan memandang Allah. Jika tidak bisa seakan memandang-Nya maka dengan meyakini bahwa Allah melihatnya.”
(HR Bukhari).
Orang yang memiliki rasa malu dengan sesama tentu akan menjauhi segala sifat yang tercela dan berbagai tindak tanduk yang buruk. Karenanya orang tersebut tidak akan suka mencela, mengadu domba, menggunjing, berkata-kata jorok dan tidak akan terang-terangan melakukan tindakan maksiat dan keburukan.
Wallahu A’lam Bisshawab
Semoga bermanfaat
