Agustri Pratama: Kandungan Unsur Hara Kohe Menentukan Mutu Pupuk Organik
Agustri Pratama, praktisi pupuk organik sekaligus Owner Agro Pratama Lestari, menegaskan bahwa kualitas pupuk organik sangat bergantung pada kandungan unsur hara mikro dan makro yang ada dalam kotoran hewan (kohe). Berdasarkan temuan dalam jurnal internasional dan Jurnal Agrifer Indonesia, kotoran ayam puyuh serta guano kelelawar tercatat memiliki kandungan unsur hara tertinggi, mencapai 95 persen. Meski demikian, kadar amonianya sangat tinggi sehingga memerlukan proses panjang untuk menurunkannya. Sementara itu, kotoran kambing menempati posisi kedua dengan unsur hara sekitar 90 persen dan amonia yang rendah, menjadikannya bahan pupuk yang stabil serta mudah diolah.
Di bawahnya, kotoran sapi memiliki unsur hara sekitar 40 persen, sedangkan kotoran ayam broiler atau petelur hanya berkisar 10 persen dengan kandungan amonia yang sangat tinggi. Perbedaan kandungan inilah yang memengaruhi jumlah penggunaan di lapangan. Agustri mencontohkan, satu genggam kotoran ayam puyuh setara dengan sembilan genggam kotoran ayam broiler. Karena itu, pemahaman petani terkait kadar unsur hara sangat penting agar pemupukan lebih efisien dan tepat guna.
Agustri menekankan bahwa pupuk organik berperan memperbaiki kualitas tanah, bukan sekadar memberi nutrisi pada tanaman. Kohe yang kaya unsur hara namun rendah amonia seperti kotoran kambing mampu menjaga kestabilan unsur hara tanah, sehingga hasil panen tetap konsisten pada musim tanam berikutnya. Ia berharap petani semakin bijak memilih bahan baku pupuk organik dengan mempertimbangkan kandungan unsur haranya, demi mendukung pertanian yang sehat dan berkelanjutan.
